Selasa, 07 Juni 2011


ROTI GOSONG
Ketika saya kecil, saya masih ingat ibu suka makanan untuk makan malam kami. Malam itu, ibu meletakkan di depan ayah sebuah piring berisi telur, sosis dan roti yang gosong terbakar. Saya ingat sekali saya menantikan reaksi semua orang apakah mereka tahu bahwa roti ayah gosong terbakar. Tetapi ayah saya mengambil rotinya dan memakannya seperti biasa. Ia seolah tak merasaka pahitnya roti yang gosong itu,malah ia tersenyum kepada ibu dan bertanya kepada saya apakah saya menikmati pelajaran hari ini. Aku tidak ingat apa jawabanku malam itu kepada ayah, tetapi aku mengingat ia menikmati setiap gigitan roti yang gosong itu. Ketika aku meninggalkan meja makan, aku mendengar ibu meminta maaf untuk roti gosong itu. Dan aku masih ingat ayah berkata, “Sayang aku suka roti gosong.”
Ketika aku memberikan ciuman kepada ayahku malam itu, aku bertanya kepadanya, “Ayah apa ayah betul-betul suka roti gosong?”. Ayah meraih dan merangkul aku dengan tangannya dan ia berkata “Sayang, ibumu sudah bekerja keras seharian dan ia betul-betul lelah. Di samping itu, roti gosong tidak akan pernah mencelakai siapapun juga.”
Dari cerita di atas saya ingin mengajak kita mengerti bahwa hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna dan orang-ornag yang tidak sempurna. Kita sendiri buak orang terbaik di dalam bidang kita, ada banyak hal yang sering kali terlupakan oleh kita atau kita lakukan dengan salah,bahkan kita pernah lupa hari ulang tahun, atau bahkan lupa hari ulang tahun pernikahan kita sendiri, sama seperti yang juga dilakukan oelh orang lain. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menerima satu dengan yang lain apa adanya dan tidak menuntut orang lain berlaku dengan sempurna sementara kita sendiri juga masih banyak kekurangan. Yang paling penting kita lakukan di dunia ini adalah membangun hubungan yang sehat dan yang kekal, yang bertumbuh ke arah DIA.
Sikap saling menerima seperti ini tidak hanya berlaku dalam hubungan suami-istri atau orang tua dan anak, tetapi juga dengan sesama kita di kantor, di gereja, di lingkungan kita, di kampus, dan dimanapun kita berada selama masih ada manusianya dan manusia itu pasti tidak sempurna.
Dua kunci utama untuk menerima orang lain adalah pertama ingatlah bahwa Tuhan Yesus telah menerima kita apa adanya, dengan segala kekurangan dan keberdosaan kita. Kita berharga di mataNya dan Ia tidak melihat kita dengan segala kekurangan kita. Ia menerima kita dan terus berusaha menuntun kita menuju ke kesempurnaan. Kedua, pikirkanlah bahwa diri kita pun juga tidak sempurna, ada atau mungkin juga banyak kekurangannya, dan kita pun bisa berbuat kesalahan yang sama dengan yang dibuat orang lain. Jangan penuhi hati dan pikiran kita dengan tuntutan, tetapi penuhilah dengan sikap penerimaan yang positif, ini akan membantu otang lain juga untuk bertumbuh lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar