Senin, 21 November 2011

MERENUNGLAH SEJENAK

MERENUNGLAH SEJENAK
Beberapa tahun yang lalu, ada kejadian dimana Senior Executive di Standard Oil Company membuat keputusan yang salah. Keputusan itu menyebabkan perusahaan mengalami kerugian sebanyak 2 juta dolar. Sebagai pendiri dan pemilik perusahaan, John D.Rockefeller segera menangani masalah tersebut. Ia akan bertemu dengan Senior Executive dan orang-orang yang terkait yang sudah menyebabkan perusahaan merugi. Karena takut, sebagian dari mereka mencari alasan untuk menghindar bertemu dengan John D.Rockefeller. mereka takut membayangkan kemarahan sang bos. Orang-orang tersebut bisa menghindari John D.Rockefeller, kecuali Edward T.Bedford, seorang partner di perusahaan tersebut. Hari itu Bedford dijadwalkan untuk menemui John D.Rockefeller. Bedford sudah menyiapkan hati untuk mendengar “pidato panjang” John D.Rockefeller mengenai mereka yang melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan.
Ketika ia memasuki ruangan sang bos, ia dapat merasakan ketegangan yang sangat besar. Sang bos sedang menunduk sambil menulis dengan pensilnya di atas selembar kertas. Bedford berdiri sambil diam, karena tidak ingin mengusik kesibukan sang bos. Setelah beberapa menit John D.Rockefeller menegakkan kepala dan memandang ke arahnya. “Oh kamu Bedford,” kaatanya kalem. “Aku yakin engkau sudah mendenagr tentang kerugian perusahaan kita.” Bedford pun mengangguk. “Aku sudah memikirkannya matang-matang, dan sebelum aku berdiskusi dengan yang bersangkutan mengenai masalah ini, aku sudah membuat catatan.”
Belakangan Bedford bercerita tentang kebijakan sang bos, “Di bagian atas kertas itu tertulis ‘Poin-poin untuk mendukung Tuan______.’ Di bawahnya terdapat daftar panjang dari kebaikan sang Senior Executive, termasuk penjelasan singkat bagaimana ia telah membantu perusahaan dengan mengambil keputusan yang tepat dalam tiga kesempatan terpisah. Karena keputusannya itu, ia telah berhasil menguntungkan perusahaan dengan total keuntungan yang jauh lebih besar daripada total kerugian yang diakibatkan keputusannya yang salah baru-baru ini.” Bedford tidak pernah melupakan pelajaran itu. Di tahun-tahun setelah itu, ketika ia tergoda untuk marah dan memvonis seseorang karena kesalahannya, ia akan duduk sejenak, berpikir,mengingat-ingat,dan mempertimbangkan. Cara itu seringkali membuatnya bisa memandang masalah dengan perspektif yang benar, sehingga ia melakukan tindakan yang tepat dan tidak terbakar emosi.
Membiarkan diri dikuasai emosi dan kemarahan yang meluap seringkali membuat kita mengambil keputusan yang salah. Tuhan mengajarkan kita untuk selalu mempertimbangkan segala sesuatunya. Membiasakan diri berpikir tenang sambil memohon tuntunan Tuhan dalam situasi sulit, akan menghasilkan keputusan yang bijaksana. Biarlah Tuhan memampukan kita bertindak bijaksana,sehingga kita tetap memuliakan Dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar