Kemenangan Indonesia di semifinal membuat masyarakat sangat tertarik untuk menoton langsung pertandingan finallnya secara langsung di Istora Gelora Bung Karno. Sebenarnya ketertarikan masyarakat untuk menyaksikan pertandingan Indonesia secara langsung adalah semenjak Indonesia melakukan aksi gemilang dalam permainannya semenjak babak penyisihan melawan Malaysia.
Dimulai dari aksi gemilang itu menyebabkan masyarakat Indonesia berbondong-bondong ingin menyaksikan pertandingan Indonesia secara langsung. Namun ada yang kurang memuaskan dari cara untuk membeli tiket uuntuk pertandingan Indonesia ini, yaitu dalam hal pembelian tiketnya. Untuk mendapatkan tiketnya orang yang membelinya harus rela-rela menyumbangkan waktunya seharian yaitu dari subuh sampai sore hanya untuk mendapatkan selembar tiket. Masih untung jika orang yang ingin membelinya mendapatkan tiketnya ,namun jika tidak dapat maka waktu yang kita buang dengan percuma maka akan tambah sia-sia. Misalnya bagi orang kantoran maka dia harus rela bolos dari kerjaannya atau cuti dari kerjaannya dan bahkan ada yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga rela datang ke Gelora Bung Karno dengan membawa bayinya yang masih dibawah umur 5 tahun pada saat pagi-pagi subuh hanya demi mengantri untuk mendapatkan tiket. Sungguh betapa ironis, sepak bola Indonesia dapat menghipnotis seluruh masyarakat Indonesia untuk menonton pertandingannya secara langsung. Inilah potret dari pembelian tiket sepak bola di piala AFF dari segi masyarakat yang benar-benar sangat mencengangkan.
Namun ada yang lebih parah lagi yaitu potret dari segi penyelenggara pembelian tiketnya dan juga sistemnya. Sungguh ironis penyelenggara penyedia tiket dengan sesuka hati mempermainkan beribu-ribu masyarakat Indonesia yang rela antri berjam-jam demi selembar tiket dengan mengatakan “tiket sudah habis terjual” dengan sesuka hati mereka tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Penjualan tiket yang dibuka jam 3 dan pada saat dibuka langsung dikatakan tiket habis terjual membuat masyarakat memang geram. Belum lagi hal-hal lain di mana menomor satukan orang penting sungguh memang membuat semua tata cara pembelian tiket sangat kacau. Kita boleh lihat di Malaysia bagaimana cara pembelian tiket yang sangat disiplin tanpa keluhan apapun. Namun saat kia melihat kembali ke Indonesia kita melihat potret yang sangat menyedihkan di mana banyak kericuhan dari segi masyarakat juga dari segi penyelenggara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar